Mendengkur pada Anak: Penyebab, Tanda Bahaya, dan Kaitannya dengan Rahang

Ditinjau oleh: drg. Alexander Bryan, FICD

Mendengar anak mendengkur saat tidur mungkin terdengar sepele, terutama jika hanya terjadi sesekali ketika anak sedang pilek atau hidung tersumbat.

Namun, jika anak mendengkur hampir setiap malam, tidur dengan mulut terbuka, tampak kesulitan bernapas saat tidur, atau mengalami jeda napas, kondisi tersebut sebaiknya tidak dianggap sebagai kebiasaan tidur biasa.

Mendengkur pada anak dapat berkaitan dengan gangguan pada saluran napas atas dan dalam beberapa kondisi menjadi tanda sleep-disordered breathing (SDB), termasuk obstructive sleep apnea (OSA).

Selain itu, jika anak juga memiliki kebiasaan mouth breathing dalam jangka panjang, terdapat hubungan yang perlu diperhatikan dengan perkembangan gigi, rahang, dan struktur wajah. Namun, hubungan tersebut tidak selalu berarti bahwa mouth breathing merupakan satu-satunya penyebab perubahan rahang.

Lalu, apa penyebab anak mendengkur dan kapan perlu diperiksa?

Apakah Mendengkur pada Anak Normal?

Mendengkur sesekali belum tentu menandakan masalah kesehatan.

Anak dapat mendengkur sementara ketika sedang mengalami:

  • pilek atau hidung tersumbat;
  • alergi;
  • infeksi saluran pernapasan;
  • atau kondisi lain yang membuat aliran udara melalui hidung menjadi kurang lancar.

Jika dengkuran berkurang setelah kondisi tersebut membaik, biasanya berbeda dengan habitual snoring, yaitu dengkuran yang muncul secara berulang atau hampir setiap malam.

Yang perlu diperhatikan adalah frekuensi dengkuran dan gejala yang menyertainya.

American Academy of Pediatrics merekomendasikan agar anak dan remaja diperhatikan terkait kebiasaan mendengkur, terutama karena mendengkur dapat menjadi salah satu tanda sleep-disordered breathing. Anak yang mendengkur disertai tanda atau gejala OSA perlu mendapatkan evaluasi lebih lanjut.

Apa Penyebab Anak Mendengkur Saat Tidur?

Mendengkur terjadi ketika aliran udara melalui saluran napas menjadi terganggu sehingga jaringan di sekitar jalan napas bergetar dan menghasilkan suara.

Pada anak, beberapa kondisi dapat berperan.

1. Hidung Tersumbat dan Alergi

Pilek, alergi, atau peradangan pada saluran hidung dapat membuat anak lebih sulit bernapas melalui hidung. Akibatnya, anak dapat lebih sering bernapas melalui mulut dan mendengkur ketika tidur.

Jika dengkuran hanya muncul ketika anak sedang sakit atau hidung tersumbat dan kemudian menghilang setelah kondisi membaik, biasanya penyebabnya berbeda dengan dengkuran kronis.

Namun, jika hidung sering tersumbat dan anak terus bernapas melalui mulut, penyebabnya perlu diperiksa.

2. Pembesaran Amandel dan Adenoid

Pembesaran tonsil atau amandel dan adenoid merupakan salah satu faktor penting yang dapat mempersempit jalan napas bagian atas pada anak.

Ketika jaringan tersebut membesar, aliran udara saat tidur dapat lebih mudah terganggu dan menyebabkan anak mendengkur.

Pada anak dengan OSA yang berkaitan dengan pembesaran adenotonsil, adenotonsilektomi merupakan salah satu terapi utama yang direkomendasikan dalam guideline pediatrik. Namun, tidak setiap anak dengan amandel atau adenoid besar mengalami OSA.

Karena itu, orang tua sebaiknya tidak menilai kondisi anak hanya dari ukuran amandel atau suara dengkuran, tetapi juga memperhatikan pola napas dan kualitas tidur anak.

3. Kebiasaan Bernapas melalui Mulut atau Mouth Breathing

Mouth breathing berarti anak lebih sering bernapas melalui mulut, termasuk saat tidur. Kondisi ini dapat muncul karena hidung sulit digunakan untuk bernapas, misalnya akibat sumbatan atau masalah saluran napas.

Jika berlangsung dalam jangka panjang, mouth breathing pada anak berhubungan dengan sejumlah perubahan dentofasial, termasuk perubahan posisi rahang, pola pertumbuhan wajah, dan bentuk lengkung gigi.

Sebuah systematic review dan meta-analysis menemukan bahwa anak dengan mouth breathing menunjukkan sejumlah perbedaan pada parameter perkembangan kraniofasial dibandingkan anak yang bernapas melalui hidung.

Namun, penelitian yang tersedia sebagian besar bersifat observasional sehingga hubungan tersebut tidak dapat langsung diartikan sebagai hubungan sebab-akibat. American Association of Orthodontists mencantumkan mouth breathing sebagai salah satu tanda yang perlu diperhatikan dalam evaluasi ortodonti anak.

4. Kondisi atau Struktur Saluran Napas

Selain hidung tersumbat dan pembesaran tonsil/adenoid, berbagai kondisi lain yang memengaruhi saluran napas atas juga dapat berhubungan dengan dengkuran atau sleep-disordered breathing.

Karena penyebabnya dapat berbeda pada setiap anak, pemeriksaan perlu melihat kondisi secara keseluruhan, bukan hanya gigi atau rahang.

Baca Juga: Invisalign Tanpa Menunggu Gigi Permanen Anak: Apakah Aman & Efektif?

Apa Hubungan Mendengkur dengan Mouth Breathing pada Anak?

Mendengkur dan mouth breathing dapat saling berkaitan ketika anak mengalami hambatan bernapas melalui hidung atau saluran napas atas. Misalnya ketika hidung anak sulit digunakan untuk bernapas, anak dapat lebih sering membuka mulut saat tidur. Jika aliran udara melalui saluran napas juga terganggu, kondisi tersebut dapat disertai dengan dengkuran.

Jika kebiasaan ini berlangsung lama, pola bernapas dan posisi otot di sekitar mulut dapat ikut memengaruhi perkembangan struktur gigi dan wajah. Sejumlah penelitian yang dirangkum American Academy of Pediatrics bahkan menemukan adanya hubungan antara mouth breathing dan perubahan tertentu pada perkembangan dentofasial.

Apakah Mouth Breathing Bisa Memengaruhi Pertumbuhan Rahang Anak?

Ada hubungan antara mouth breathing dan perubahan perkembangan dentofasial, tetapi bukan berarti mouth breathing pasti menyebabkan rahang anak menjadi bermasalah.

Anak dengan mouth breathing dapat menunjukkan beberapa perbedaan pada perkembangan kraniofasial, termasuk kecenderungan perubahan arah pertumbuhan rahang dan posisi gigi.

Penelitian yang lebih baru juga menemukan bahwa anak dengan mouth breathing memiliki kecenderungan lengkung gigi rahang atas yang lebih sempit, terutama pada area kaninus dan molar, serta prevalensi posterior crossbite yang lebih tinggi.

Karena itu, jika anak mendengkur sekaligus sering bernapas melalui mulut, memiliki gigi berjejal, atau terlihat memiliki lengkung rahang yang sempit, pemeriksaan ke dokter gigi anak adalah tindakan yang tepat untuk mengetahui apakah terdapat masalah yang perlu ditangani.

Apakah Mendengkur pada Anak Berbahaya?

Tidak semua dengkuran pada anak menandakan masalah, terutama jika hanya terjadi sesekali dalam kondisi tertentu. Sebaliknya, dengkuran yang muncul secara berulang atau terasa berbeda dari biasanya perlu diperhatikan, khususnya jika menunjukkan beberapa tanda berikut:

  • Mendengkur hampir setiap malam.
  • Tidur dengan mulut terbuka atau sering mouth breathing.
  • Tampak kesulitan bernapas saat tidur.
  • Terdapat jeda napas atau perubahan pola napas.
  • Tidur terlihat gelisah atau sering terbangun.
  • Pada siang hari anak tampak mengantuk, sulit berkonsentrasi, atau mengalami perubahan perilaku.

Jika terdapat tanda gangguan pernapasan saat tidur, segera konsultasikan dengan dokter berpengalaman agar dapat ditentukan penyebab, masalah dan solusi yang dibutuhkan.

Kapan Anak yang Mendengkur Perlu Dibawa ke Dokter?

Jika Anak Mendengkur Hampir Setiap Malam

Dengkuran yang terus berulang layak diperiksa, terutama jika berlangsung dalam waktu lama dan tidak berkaitan dengan pilek atau alergi sementara.

Jika Ada Jeda atau Kesulitan Bernapas Saat Tidur

Jeda napas, tersedak, napas yang tampak terhambat, atau kesulitan bernapas saat tidur merupakan tanda yang perlu dievaluasi. Dokter dapat melakukan pemeriksaan lebih lanjut untuk mengetahui apakah terdapat gangguan seperti obstructive sleep apnea.

Jika Mendengkur Disertai Mouth Breathing dan Masalah Rahang

Jika anak terus bernapas melalui mulut, pemeriksaan dapat membantu mencari tahu apakah terdapat masalah pada hidung atau saluran napas yang menyebabkan kebiasaan tersebut.

Jika terdapat masalah gigi dan rahang yang menyertainya, pemeriksaan ortodonti juga dapat menjadi bagian dari evaluasi.

Jika Ada Masalah Gigi atau Rahang

Orang tua dapat memperhatikan tanda seperti:

  • gigi berjejal;
  • lengkung gigi tampak sempit;
  • crossbite;
  • overbite atau underbite;
  • posisi gigi yang tidak seimbang;
  • atau perubahan pertumbuhan wajah yang terlihat.

Kondisi tersebut tidak berarti anak pasti mengalami gangguan tidur, tetapi dapat menjadi alasan untuk melakukan pemeriksaan pertumbuhan dan perkembangan gigi.

Baca juga: Inilah Cara Kerja Invisalign dalam Merapikan Gigi Tanpa Behel

Apakah Invisalign First Bisa Membantu Anak dengan Rahang Sempit?

Pada anak yang masih berada dalam fase pertumbuhan, masalah seperti rahang atas yang sempit, gigi berjejal, atau crossbite dapat menjadi bagian dari kondisi yang perlu dievaluasi secara ortodonti.

Penelitian menunjukkan bahwa anak dengan mouth breathing cenderung memiliki beberapa perbedaan pada perkembangan dentofasial, termasuk lebar lengkung gigi yang lebih sempit pada area tertentu. Namun, hubungan ini bersifat kompleks dan tidak berarti setiap anak yang mouth breathing pasti mengalami masalah rahang.

Jika dari hasil pemeriksaan ditemukan masalah perkembangan lengkung gigi atau posisi gigi yang memang membutuhkan intervensi, Invisalign First dapat menjadi salah satu pilihan perawatan ortodonti pada fase gigi bercampur.

Studi mengenai Invisalign First menunjukkan bahwa sistem ini dapat membantu melakukan ekspansi lengkung gigi pada anak dengan tingkat keberhasilan yang bergantung pada jenis dan lokasi pergerakan yang direncanakan.

Namun, mendengkur pada anak dapat memiliki berbagai penyebab, termasuk pembesaran amandel, adenoid, atau hambatan saluran napas. Karena itu, dokter perlu mengevaluasi kondisi gigi, rahang, gigitan, dan tahap pertumbuhan anak untuk menentukan apakah Invisalign First sesuai dengan kebutuhannya.

Apa Tanda Anak Mungkin Membutuhkan Invisalign First?

1. Lengkung Gigi Rahang Atas Anak Terlihat Sempit

Lengkung gigi yang sempit dapat membuat ruang untuk gigi permanen menjadi terbatas sehingga menimbulkan masalah seperti crowding atau crossbite. Pada kasus tertentu, perawatan ortodonti fase awal dapat membantu mengatasi masalah perkembangan tersebut.

Invisalign First memang dirancang untuk anak dalam fase pertumbuhan dan dapat menangani masalah seperti narrow dental arches.

2. Gigi Mulai Berjejal karena Ruang Tidak Cukup

Gigi yang mulai tumbuh bertumpuk atau tidak memiliki cukup ruang dapat menjadi tanda adanya masalah perkembangan lengkung gigi. Pemeriksaan lebih awal membantu dokter menentukan apakah kondisi tersebut cukup dipantau atau membutuhkan intervensi.

3. Terdapat Masalah Gigitan atau Posisi Rahang

Overbite, underbite, crossbite, atau posisi rahang yang tidak seimbang dapat membutuhkan evaluasi ortodonti. Tujuannya bukan semata-mata membuat gigi terlihat lebih rapi, tetapi menilai bagaimana gigi dan rahang berkembang selama masa pertumbuhan.

4. Anak Memiliki Kebiasaan Mouth Breathing

Mouth breathing tidak otomatis berarti anak membutuhkan Invisalign First. Namun, jika kebiasaan ini muncul bersama masalah gigi atau rahang, pemeriksaan ortodonti dapat membantu melihat apakah terdapat faktor struktural yang perlu diperhatikan.

Adakah Pasien Anak di Dokgi yang Mengalami Perubahan Mouth Breathing?

Ada pengalaman klinis pada pasien anak di Dokgi yang menunjukkan perubahan pola bernapas setelah menjalani perawatan ortodonti.

Salah satu pasien anak sebelumnya memiliki kebiasaan mouth breathing, yaitu lebih sering bernapas melalui mulut dibandingkan melalui hidung.

Setelah menjalani perawatan Invisalign First dan dilakukan evaluasi selama perawatan, orang tua melaporkan adanya perubahan pada kebiasaan bernapas anak — dari yang sebelumnya terbiasa bernapas melalui mulut menjadi lebih mampu bernapas melalui hidung dan tidak lagi menunjukkan kebiasaan mouth breathing seperti sebelumnya.

Pasien memiliki lengkung rahang yang sempit disertai keluhan bernapas dengan mulut terbuka atau mouth breathing, setelah menjalani perawatan Invisalign di Dokgi bersama drg Indriani Kusno, DiplClinDent (Orth), MSc Orth (UK) mouth breathing berkurang dan pola bernapas melalui hidung menjadi lebih dominan.

Mengapa Evaluasi Dini Penting pada Anak?

Masa pertumbuhan memberikan kesempatan untuk memantau perkembangan gigi, lengkung rahang, dan hubungan antara rahang atas dan bawah sejak lebih awal.

Penelitian menunjukkan adanya adanya hubungan antara mouth breathing dan sejumlah perubahan dentofasial pada anak, termasuk kecenderungan lengkung gigi yang lebih sempit. Namun, bukti tersebut terutama berasal dari studi observasional, sehingga hubungan tersebut tidak boleh disederhanakan menjadi hubungan sebab-akibat tunggal.

Karena itu, evaluasi dini bukan berarti semua anak harus langsung menjalani perawatan, tetapi membantu dokter menentukan apakah anak cukup dipantau atau memang membutuhkan intervensi.

Mengapa Memilih Invisalign First di Dokgi Dental Clinic?

Di Dokgi, evaluasi anak dilakukan dengan melihat kondisi gigi, gigitan, dan perkembangan lengkung rahang secara menyeluruh.

Jika ditemukan masalah ortodonti yang membutuhkan intervensi, dokter dapat mempertimbangkan pilihan perawatan yang sesuai dengan usia, tahap pertumbuhan, kondisi gigi, serta kebutuhan masing-masing anak.

Untuk pasien yang sesuai indikasi, Invisalign First dapat menjadi salah satu pilihan untuk membantu mengarahkan perkembangan lengkung gigi selama fase gigi bercampur.

Jika Anda ingin mengetahui lebih lanjut tentang Invisalign, Anda bisa mengunjungi Invisalign Indonesia untuk mempertimbangkan Invisalign First untuk anak, lalu konsultasikan kondisinya dengan dokter gigi di DOKGI Dental Clinic.

Referensi:

  • Marcus, C. L., et al. (2012). Diagnosis and Management of Childhood Obstructive Sleep Apnea Syndrome. Pediatrics, 130(3), 576–584.
  • American Academy of Pediatrics. (2024). Sleep Apnea in Children: Detection & Treatment. HealthyChildren.org.
  • American Academy of Pediatrics. (2022). Tonsillitis: Symptoms & Treatment. HealthyChildren.org.
  • Zaffanello, M., et al. (2014). Paediatric sleep-disordered breathing due to upper airway obstruction in the orthodontic setting: A review. European Journal of Orthodontics.
  • Gonçalves, A., et al. (2023). Efficiency of Invisalign First® to Promote Expansion Movement in Mixed Dentition: A Retrospective Study and Systematic Review. European Journal of Paediatric Dentistry, 24(2), 112–123.
  • Wang, Q., et al. (2026). Skeletal and Dental-Alveolar Changes With Invisalign First Expansion System in the Mixed Dentition: A Retrospective Study. Orthodontics & Craniofacial Research.
Share the Post:

Related Posts

tingkat-keberhasilan-aligner

Fakta Tingkat Keberhasilan Aligner Beserta Data dan Faktor Penentu

Bahagia dan Sehat! Testimoni Moms Irma Firda Setelah Perawatan di DOKGI Kids

pantangan minum saat memakai Invisalign

Jangan Minum Ini Saat Pakai Invisalign! Panduan Lengkap dari Dokgi

Assesment Form

Apakah Invisalign cocok untuk Anda?

Hanya perlu 1 menit untuk mengetahui apakah Invisalign adalah solusi tepat untuk senyummu!